11.02.08
Posted in Uncategorized at 8:36 pm by widhayunita
Lelahmu jadi lelahku juga
Bahagiamu bahagiaku pasti
Berbagi takdir kita selalu
Kecuali tiap kau jatuh hati
Kali ini hampir habis dayaku
Membuktikan padamu ada cinta yang nyata
Setia hadir setiap hari
Tak tega biarkan kau sendiri
Meski seringkali kau malah asyik sendiri
Karena kau tak lihat terkadang malaikat
Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya
Hampamu tak kan hilang semalam
Oleh pacar impian
Tetapi kesempatan untukku yang mungkin tak sempurna
Tapi siap untuk diuji
Kupercaya diri… Cintakulah yang sejati
Namun tak kau lihat terkadang malaikat
Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya
Kau selalu meminta tuk terus kutemani
Engkau selalu bercanda andai wajahku diganti
Relakan ku pergi… Karena tak sanggup sendiri
Namun tak kau lihat terkadang malaikat
Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu… Aku kan jadi juaranya
Hmmm… liriknya kuat banget. Dee bangetz… Pertama kali tau klipnya di DAHSYAT-nya RCTI. Luna Maya yg jd salah satu hostnya mpe nangis liat aktingnya Lukman Sardi. Keren emang… Pesan dlm liriknya jg lugas tersampaikan.
… terkadang malaikat tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan …
Mencoba meresapi …
Permalink
Posted in Uncategorized at 8:21 pm by widhayunita
lama sudah kumencari apa yang hendak kulakukan
s’gala titik kujelajahi tiada satupun kumengerti
tersesatkah aku di samudra hidupku
kata-kata yang kubaca terkadang tak mudah kucerna
bunga-bunga dan rerumputan bilakah kau tahu jawabnya
inikah jalanku inikah takdirku
reff:
kubiarkan kumengikuti suara dalam hati
yang s’lalu membunyikan cinta
kupercaya dan kuyakini murninya nurani menjadi penunjuk jalanku
lentera jiwaku
Permalink
10.18.08
Posted in Uncategorized at 7:36 pm by widhayunita
10.30 WIB - Huphfff…. akhirnya sampai juga di rumah. Buka pintu, naruh barang2 bawaan, langsung ke meja makan, nuangin air ke dlm gelas. Kuteguk sampai tak bersisa, alhamdulillah… Beranjak mendekati kipas angin, kunyalakan utk menghalau hawa panas. Ambil posisi tepat di depannya sambil menyeka keringat. Masih belum cukup, koran keluaran hari ini pun kutekuk jd dua, kujadikan kipas dadakan. Saking panasnya….
“Saat ini berdasarkan perkiraan BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika) Maritim Tanjung Perak, suhu udara luar ruangan di Surabaya di puncak panas pada pukul 12.00 WIB mencapai 42 derajat Celcius. Sedangkan di dalam ruangan (yang normal tak ber-AC) sekitar 37 derajat Celcius. Pada 22 Oktober nanti, bahkan diramalkan suhu panas di Surabaya mencapai tertinggi dalam tahun ini, sekitar 45 derajat Celcius (di luar ruangan) dan 39 derajat Celcius (di dalam ruangan) sebagai akibat terjadinya pergerakan semu matahari menuju selatan khatulistiwa.” (Harian pagi Surya, 18 Oktober 2008)
Permalink
08.05.08
Posted in Uncategorized at 8:09 pm by widhayunita
Jodoh itu misteri illahi. Sebuh statement tak terbantahkan.
Ada kisah dr seorang sahabat yg aku kenal sejak SMP. Empat thn ia membina hubungan dg seorang pria, harapannya tentu saja berakhir di pelaminan. Tahap melamar pun sudah dilalui. Secara kasat mata, semua terlihat tinggal selangkah lagi. Namun, seperti yg tertulis di atas, jodoh itu misteri Illahi.
Januari 2008, sahabatku ini memberi sinyal bhw dia akan menikah thn ini. Bln Maret, dia datang ke rumah sembari mengabarkan bahwa pernikahan akan dilangsungkan di bulan Mei sekaligus memintaku utk membantu di acara resepsi. Siapa yg ga senang mendengar kabar gembira itu. Ngobrol kesana-kemari, aku menanyakan rencananya ke depan terkait apakah dia akan ikut suaminya (sebut saja Y) kelak, krn setauku Y memang bekerja di luar Jawa. Sungguh diluar dugaan, sembari tersenyum simpul seakan menyimpan suatu rahasia, dia mengatakan bahwa dia menikah tidak dg Y, tetapi dg lelaki lain (Z). “Koq bisa??!!”, tanyaku penasaran. Dia pun menceritakan apa yg dialaminya dua bulan terakhir.
Proses persiapan pernikahan dg Y memang dilakukan sebagaimana mestinya, mulai dr pesan gedung, perias, katering, dll. Tapi, mungkin disinilah letak misteri itu. Ada suatu peristiwa yg mengganjal di hatinya (tak perlu dijelaskan disini, red) dan membuatnya bimbang utk meneruskan semua itu. Dia pun memohon petunjuk pada Allah SWT dg sholat istikharah. Hasilnya, dia mantap mengakhiri hubungannya dg Y. Siapa pun yg ada di posisinya pastilah merasakan kesedihan, namun dia sanggup menerima semua ketentuan Allah itu dg tegar dan ikhlas.
Tanpa harus menunggu lama, Allah memberikan jawaban atas shalat istikharah yg ia lakukan. Hanya dlm hitungan minggu setelah mengambil keputusan utk membatalkan lamaran dg Y, Allah hadirkan pendamping hidup yg insyaAllah lebih baik dibandingkan yg terdahulu. Ia berkenalan dg lelaki lain yg kelak menjadi suaminya melalui seorang perantara yg tak pernah disangka sebelumnya. Proses perkenalan (ta’aruf) dilalui, dilanjutkan dg melamar (khitbah) dan mereka pun merencanakan menikah dua bulan kemudian.
Ya Allah, antara percaya ga percaya aku mendengar penuturannya. Entah apa dia menangkap mataku yg sempat berkaca-kaca ini atau tidak. Yg jelas saat itu aku benar2 terhenyak mendapati skenario Allah yg kadang kutemui di majalah2 islami ternyata juga dialami oleh sahabatku sendiri. Merinding rasanya menyaksikan ketegarannya melalui semua itu. Betapa 4 thn seperti tak ada artinya dan begitu cepatnya Allah pertemukan dg yg lain, yg lebih baik insyaAllah. Satu poin yg kucatat disini, ketika 2 orang berniat utk menikah semata-mata karena ibadah kepada Allah, semua menjadi begitu lancar.
Waktu itu yg jelas aq serahkan smua kputusan dr Allah,minta yg trbaik dan dberi kmudahan sbg petunjuk bila itu memang yg trbaik.. Stiap hari aq mengulangnya.. Aku mempercayakan smuanya ke Allah, tawakkal, prcaya pasti ada yg lebih baik n prcaya d balik kesulitan psti ada kmudahan. Jd ga putus asa.
(Kutipan message via FS darinya sebulan setelah pernikahannya, lebih baik bertanya langsung daripada aku menebak2 apa yg dia rasakan/lakukan di saat2 berat itu ;p )
Ikhlas dan mempercayakan. Dua hal itu yg bisa aku tangkap dari kisahnya. Ikhlas atas apa yg telah Allah berikan, dan mempercayakan jodohnya di tangan Allah. Mempercayakan berbeda dengan percaya. Mempercayakan sama artinya dengan menyandarkan diri ini sepenuhnya pada Sang Khalik. Ya Allah, berikan saja apa yg terbaik menurut Engkau.. (bunyi shout out di profil FS sahabatku ini, ^_^).
*) Buat yg merasa punya kisah diatas, makasih sudah diijinkan mengutip kisah hidupmu. Selamat jg atas kehamilannya anak pertamanya ^_^ , semoga sehat dan lancar sampai saat melahirkan nanti.
Permalink
08.04.08
Posted in Uncategorized at 8:34 am by widhayunita
Kalo ditanya lagu apa yg ga akan pernah bosan kudengar, jawabnya ada dua. Lembayung Bali dan Nuansa Bening. Yup, itu dua lagu favorit sepanjang masa ^_^. Dan rupanya ada yg penasaran kenapa aku suka bgt ama Lembayung Bali. Kalau dibilang ada memori tertentu, jawabnya iya memang. Tapi bisa kupastikan bukan memori dg someone special. Aku pastikan itu ya, Feb ^_^.
Teman yang terhanyut arus waktu mekar mendewasa
Puitis ya? Atau yg lain, menyebut seorang sahabat sbg sosok yg mengaliri cawan hidup kita. Nah, rangkaian kata bernuansa persahabatan itulah yg membuatku terkesan ma lagu ini. Lagu ini jd begitu memorable krn aku dengar utk yg pertama kali di hari2 penantian pengumuman SPMB (2002) yg berarti jg saat2 perpisahan ma teman2 SMU.
Jadi sebenarnya, kalo ditanya sosok siapa yg membuatku selalu mengenang lagu ini? Jawabnya adalah….. mereka, sahabat2ku semenjak SD, SMP, SMU dan jg yg aku temui selama hidup di Yogja. Kami udah berpisah sekian tahun dan pastinya banyak perubahan dalam diri masing2, namun persahabatan ini masih tetap terjalin. Dan insyaAllah ‘tuk selamanya ya? Disini aku mau ngucapin makasih buat persahabatan yg berumur hampir satu dasawarsa, bahkan ada yg lebih.
Simpul persahabatan ini boleh saja usang, sahabat. Tapi itulah petanda bahwa kita telah bersama melewati waktu. Keep contact yach, jgn biarkan simpul ini terurai. Miss u…
LEMBAYUNG BALI ~ Sarasdewi
Menatap lembayung di langit Bali
Dan kusadari betapa berharga kenanganmu
Di kala jiwaku tak terbatas
Bebas berandai mengulang waktu
Hingga masih bisa kuraih dirimu
Sosok yang mengisi kehampaan kalbuku
Bilakah diriku berucap maaf
Masa yang t’lah kuingkari
Dan meninggalkanmu… Cinta
Teman yang terhanyut arus waktu mekar mendewasa
Masih kusimpan suara tawa kita
Kembalilah sahabat lawasku
Semarakkan keheningan lubuk
Hingga masih bisa kurangkul kalian
Sosok yang mengaliri cawan hidupku
Bilakah kita menangis bersama
Tegar melawan tempaan
Semangatmu itu… Jingga
Hingga masih bisa kujangkau cahaya
Senyum yang menyalakan hasrat diriku
Bilakah kuhentikan pasir waktu
Tak terbangun dari khayal
Keajaiban ini… Mimpi
Andai ada satu cara
‘Tuk kembali menatap agung surya-Mu
Lembayung Bali
For them : my old friends, my best friends
Permalink
« Previous entries